TEKS, DO’A, CARA BACAAN TAHLIL/TAHLILAN: Sejarah Tahlilan, Hukum Acara Tahlilan hari ke 7, 40, 100 dan 1000, Bid’ah Tahlilan dalam Islam, Tahlilan menurut Imam Syafi’i

Tahlilan adalah ritual/upacara selamatan yang dilakukan sebagian umat Islam, kebanyakan di Indonesia dan kemungkinan di Malaysia, untuk memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal yang biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ketujuh, dan selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Ada pula yang melakukan tahlilan pada hari ke-1000.

Kata “Tahlil” sendiri secara harafiah berarti berizikir dengan mengucap kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” (tiada yang patut disembah kecuali Allah), yang sesungguhnya bukan zikir yang dikhususkan bagi upacara memperingati kematian seseorang.

Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu ‘Al Um’ (1/248):

“Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit –pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan memberatkan urusan mereka.” (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 211)

Dari Jabir bin Abdillah Al Bajaliy, ia berkata:”Kami  (yakni para Sahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut mazhab kami para Sahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap.” Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (no 1612) dengan derajat yang shahih.

Ritual/upacara ini (berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit, berzikir dan membaca sejumlah ayat Al Qur’an, kemudian mendoakan mayit), menurut berbagai sumber, bukan merupakan ajaran Islam. Bahkan, berdasarkan hadist, ritual ini diharamkan, apalagi jika ritual itu dirukunkan pada 1-7 hari, 40 hari, 1000 hari, atau dengan rukun-rukun lainnya. Ritual/upacara ini oleh beberapa ulama digolongkan sebagai bid;ah. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahlilan dengan sedikit tambahan)

TAHLILAN DALAM TIMBANGAN ISLAM

Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Qur’an dan mengutus Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai penjelas dan pembimbing untuk memahami Al Qur’an tersebut sehingga menjadi petunjuk bagi umat manusia. Semoga Allah subhanahu wata’ala mencurahkan hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua, sehingga dapat membuka mata hati kita untuk senantiasa menerima kebenaran hakiki.

Telah kita maklumi bersama bahwa acara tahlilanmerupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian. Secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, beserta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan disertai do’a-do’a tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang (ratusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kali), maka acara tersebut dikenal dengan istilah “Tahlilan”.

Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan (terkadang dilakukan sebelum penguburan mayit), kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari ketujuh. Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit, walaupun terkadang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.

Tidak lepas pula dalam acara tersebut penjamuan yang disajikan pada tiap kali acara diselenggarakan. Model penyajian hidangan biasanya selalu variatif, tergantung adat yang berjalan di tempat tersebut. Namun pada dasarnya menu hidangan “lebih dari sekedarnya” cenderung mirip menu hidangan yang berbau kemeriahan. Sehingga acara tersebut terkesan pesta kecil-kecilan, memang demikianlah kenyataannya.

Entah telah berapa abad lamanya acara tersebut diselenggarakan, hingga tanpa disadari menjadi suatu kelaziman. Konsekuensinya, bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya ia diasingkan dari masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi acara tersebut telah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah (baca: “wajib”) untuk dikerjakan dan sebaliknya, bid’ah (hal yang baru dan ajaib) apabila ditinggalkan.

Para pembaca, pembahasan kajian kali ini bukan dimaksudkan untuk menyerang mereka yang suka tahlilan, namun sebagai nasehat untuk kita bersama agar berpikir lebih jernih dan dewasa bahwa kita (umat Islam) memiliki pedoman baku yang telah diyakini keabsahannya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.

Sebenarnya acara tahlilan semacam ini telah lama menjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam. Sebagai muslim sejati yang selalu mengedepankan kebenaran, semua pro dan kontra harus dikembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Sikap seperti inilah yang sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim yang benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah berfirman (artinya):

“Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Ar Rasul (As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’: 59)

Historis Upacara Tahlilan

Para pembaca, kalau kita buka catatan sejarah Islam, maka acara ritual tahlilan tidak dijumpai di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, di masa para sahabatnya ? dan para Tabi’in maupun Tabi’ut tabi’in. Bahkan acara tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah seperti Al Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, dan ulama lainnya yang semasa dengan mereka ataupun sesudah mereka. Lalu dari mana sejarah munculnya acara tahlilan?
Awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo’akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Namun acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur’an, maupun dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala Islam menurut mereka.
Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain.

Tahlilan Dalam Kaca Mata Islam

Acara tahlilan –paling tidak– terfokus pada dua acara yang paling penting yaitu:

Pertama: Pembacaan beberapa ayat/ surat Al Qur’an, dzikir-dzikir dan disertai dengan do’a-do’a tertentu yang ditujukan dan dihadiahkan kepada si mayit.

Kedua: Penyajian hidangan makanan.

Dua hal di atas perlu ditinjau kembali dalam kaca mata Islam, walaupun secara historis acara tahlilan bukan berasal dari ajaran Islam.

Pada dasarnya, pihak yang membolehkan acara tahlilan, mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah.

1. Bacaan Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a yang ditujukan/ dihadiahkan kepada si mayit.

Memang benar Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir dan berdoa. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a diatur sesuai kehendak pribadi dengan menentukan cara, waktu dan jumlah tertentu (yang diistilahkan dengan acara tahlilan) tanpa merujuk praktek dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya bisa dibenarakan?

Kesempurnaan agama Islam merupakan kesepakatan umat Islam semuanya, karena memang telah dinyatakan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah: 3)

Juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (H.R Ath Thabrani)
Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah sempurna, tidak butuh ditambah dan dikurangi lagi. Tidak ada suatu ibadah, baik perkataan maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyataan tiga orang, yang pertama menyatakan: “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua menyatakan: “Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka”, yang terakhir menyatakan: “Saya tidak akan menikah”, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata: “Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pula tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku.” (Muttafaqun alaihi)
Para pembaca, ibadah menurut kaidah Islam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali bila memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam Al Qur’an (artinya):

“Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya.” (Al Mulk: 2)
Para ulama ahli tafsir menjelaskan makna “yang paling baik amalnya” ialah yang paling ikhlash dan yang paling mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Tidak ada seorang pun yang menyatakan shalat itu jelek atau shaum (puasa) itu jelek, bahkan keduanya merupakan ibadah mulia bila dikerjakan sesuai tuntunan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Atas dasar ini, beramal dengan dalih niat baik (istihsan) semata -seperti peristiwa tiga orang didalam hadits tersebut- tanpa mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka amalan tersebut tertolak. Simaklah firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):

“Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”. (Al Kahfi: 103-104)
Lebih ditegaskan lagi dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)
Atas dasar ini pula lahirlah sebuah kaidah ushul fiqh yang berbunyi:

فَالأَصْلُ فَي الْعِبَادَاتِ البُطْلاَنُ حَتَّى يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى الأَمْرِ

“Hukum asal dari suatu ibadah adalah batal, hingga terdapat dalil (argumen) yang memerintahkannya.”
Maka beribadah dengan dalil istihsan semata tidaklah dibenarkan dalam agama. Karena tidaklah suatu perkara itu teranggap baik melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya baik dan tidaklah suatu perkara itu teranggap jelek melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya jelek. Lebih menukik lagi pernyataan dari Al Imam Asy Syafi’I:

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

“Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah –pent) berarti dirinya telah menciptakan hukum syara’ (syari’at) sendiri”.
Kalau kita mau mengkaji lebih dalam madzhab Al Imam Asy Syafi’i tentang hukum bacaan Al Qur’an yang dihadiahkan kepada si mayit, beliau diantara ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al Qur’an tidak akan sampai kepada si mayit. Beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (pahala) selain apa yang telah diusahakannya”. (An Najm: 39), (Lihat tafsir Ibnu Katsir 4/329).

2. Penyajian hidangan makanan.

Memang secara sepintas pula, penyajian hidangan untuk para tamu merupakan perkara yang terpuji bahkan dianjurkan sekali didalam agama Islam. Namun manakala penyajian hidangan tersebut dilakukan oleh keluarga si mayit baik untuk sajian tamu undangan tahlilan ataupun yang lainnya, maka memiliki hukum tersendiri. Bukan hanya saja tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahkan perbuatan ini telah melanggar sunnah para sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu–salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam– berkata: “Kami menganggap/ memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit).” (H.R Ahmad, Ibnu Majah dan lainnya)

Sehingga acara berkumpul di rumah keluarga mayit dan penjamuan hidangan dari keluarga mayit termasuk perbuatan yang dilarang oleh agama menurut pendapat para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para ulama salaf. Lihatlah bagaimana fatwa salah seorang ulama salaf yaitu Al Imam Asy Syafi’i dalam masalah ini. Kami sengaja menukilkan madzhab Al Imam Asy Syafi’i, karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mengaku bermadzhab Syafi’i.

Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu ‘Al Um’ (1/248): “Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit –pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan memberatkan urusan mereka.” (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 211)

Al Imam An Nawawi seorang imam besar dari madzhab Asy Syafi’i setelah menyebutkan perkataan Asy Syafi’i diatas didalam kitabnya Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 5/279 berkata: “Ini adalah lafadz baliau dalam kitab Al Um, dan inilah yang diikuti oleh murid-murid beliau. Adapun pengarang kitab Al Muhadzdzab (Asy Syirazi) dan lainnya berargumentasi dengan argumen lain yaitu bahwa perbuatan tersebut merupakan perkara yang diada-adakan dalam agama (bid’ah –pent).

Lalu apakah pantas acara tahlilan tersebut dinisbahkan kepada madzhab Al Imam Asy Syafi’i?

Malah yang semestinya, disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit, supaya meringankan beban yang mereka alami. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya:

اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ يُشْغِلُهُمْ

“Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja’far, Karena telah datang perkara (kematian-pent) yang menyibukkan mereka.” (H.R Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya)
Mudah-mudahan pembahasan ini bisa memberikan penerangan bagi semua yang menginginkan kebenaran di tengah gelapnya permasalahan. Wallahu ‘a’lam.

http://assalafy.org/artikel.php?kategori=aqidah6

67 thoughts on “TEKS, DO’A, CARA BACAAN TAHLIL/TAHLILAN: Sejarah Tahlilan, Hukum Acara Tahlilan hari ke 7, 40, 100 dan 1000, Bid’ah Tahlilan dalam Islam, Tahlilan menurut Imam Syafi’i

    1. Kalau masih bodoh mbok ya jangan memposting artikel kaya gini.kalau dihargai orang lain,tolong hargai orang lain.

    1. Kembali kepada Al-Quran selesai masalah? Justru perpecahan yg terjadi. Karena masing2 orang memahami AlQuran dengan cara dan kadarya masing2. WAMAA TAFARRAQALLADZIINA UUTUL KITAABA ILLAA MIN BA’DI MAA JAA’ATHUMUL BAYYINAH. Sama seperti Ahli Kitab, umat Islam pun berpecah belah setelah petunjuk iyu ada di tangan mereka! Kenapa? Setiap orang merasa paling pinter, paling bener dan sedikit tersisa untuk toleran dg pendapat orang lain.

      Buat yg ngotot merasa paling benar, jawaba untuk Anda cukup mrmbaca Qs. AsSaba ayat 26 !!!

      Wassalaam alaa manuttaba’al hudaa !

    1. Kalo aq punya stasiun tv srndiri, mau tak tayangin tahlil aja full time 24 jam. Paling diselingi istigotsah solawatn atau sema’an akqur’an . Biar yg ga suka tahlil cepet sadar dan taubat nasuha.

  1. Pada dasarnya, pihak yang membolehkan acara tahlilan, mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah.
    Ente anggap dh tau dasarnya tapi tetep ngeyel. mingkemo wae mlah apik..!

  2. Ritual/upacara ini (berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit, berzikir dan membaca sejumlah ayat Al Qur’an, kemudian mendoakan mayit), menurut berbagai sumber, bukan merupakan ajaran Islam. Bahkan, berdasarkan hadist, ritual ini diharamkan, apalagi jika ritual itu dirukunkan pada 1-7 hari, 40 hari, 1000 hari, atau dengan rukun-rukun lainnya. Ritual/upacara ini oleh beberapa ulama digolongkan sebagai bid;ah. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahlilan dengan sedikit tambahan)

    Kata nt urusan ibadah sumbernya Al Qur’an dan Hadist, tapi sumber yang di pake nt kok wikipedia…? Punya guru ngaji ga lo..???

  3. kata yang nulis di atas, bahwa doa orang tahlilan tidak smapai kepada si mayit. saya doakan semoga keluarag si penulis yang sudah meninggal di JOTOSI malaikat. jangan marah gan, kan doa saya ndak nyampek!!!!

  4. Astagfirullah…, Jangan perdebatkan suatu kebaikan menjadi suatu permasalahan, Jika tahlil itu bid’ah maka saya orang paling bid’ah, dan hampir seluruh dunia ini ahli bid’ah, jika kamu bukan orang bid’ah jangan gunakan sepeda, motor, mobil, kasur, Tv, handphone, internet dll yang dijaman rosul belum ada. Ngaji dulu gan sebelum memposting suatu makalah yang anda sendiri tidak paham.

  5. Tahilan memang tidak ada di jaman nabi sampai sahabat akan tetapi……. ibarat cangkir nabi itu sudah penuh dengan isinya karena sesungguhnya Allah dan semua malaikat selalu bersolawat buat kanjeng Nabi … innallaha wal malaikatahu yusoluuna ‘ala nabi …….. Lha kita …. mendoakannya, membacakan sholawat, Alfatihah termasuk bacaan alfaatihah dalam tahil cuma bisa memngharapkan keloberannya atau kelebihannya dari do’a kita bukan buat siapa2 tp buat diri kita sendiri dari kelobrannya tadi ….. kalo ga mau keloberan doa’ tadi ya …. . kareana apa kita yakin do’a kita pasti diterima ……. karana dalam tahlil itu hadaratnya pertama kpd kanjeng Nabi…. para kholifah.. ulama …. dst apa kita yakin do’a kita langsung diterima oleh Alllah …… kalo mau menghadap seorang presiden saja ga mungkin langsung ktm presidennya pasti ada ajudannya ….

  6. bosan aq bahasan macam ini, uda tau g ada ujungny, msh aja dibahas….penulis artikel mcm ini paling wahabi cs…kl mslhny hr, mo 7,10 emang napa?ntar kita gnti aja 7,5hr biar g sama…kl dianggp sama dg hindu itu hny strategi dakwh..misal sy dakwh di papua, hr minggu udah pst hr gereja, apa slh kl sy bikin acara kajian dimasjid hr minggu,mengenai bacaan tunjukin bacaan mana yg dilarang…!mengenai makanan ada/tdk bkn mslh…bhkn uda ada sistm sosial utk mengcover…ada iuran kematian, sumbangn dll …lagian kl ngga mau ngadain tahlilan emng dihukum…wong jowo karo arab bedo kang, prsaudaraan kita amat bagus, g usah di rusak mengatasnamakan syariat…kl dr sisi dalil nakli bnyk tp pnjng….kl ada yg ksh comen ntar tak lnjut

  7. wah, ayib fanatik nih baru tau dikit udah bekoar-koar. dalil, hadist, sunnah ntu tujuan , maksud dan arti sebenarnya harus faham bener jangan asal comot aja dasar bego lo. cari guru sono , belajar yg bener. pertama – tama lo cari guru yg tau cara bertutur kata, biar lo kagak bego. karena nabi ga suka sama orang bego kayak lo.

  8. Siapa yg melarang tahlilan kamu semua datang ke saya , nanti saya jelasin ,kamu bawa kitab yg kamu punya ,

  9. ya Allah….
    kita tu siapa…. semua butuh dengan perantara brooo…

    nk ngaji durung bar yo ngono kui…
    po durung ngerti ngendhikone gus dur.. ojo mung ngaji syariat bloko gor pinter dongeng nulis lan moco….
    yang nulis pintar bicara doang.. kmu tu siapaaa rumahmu mana ….ya Allah….

    ijo” laMbange N.U

  10. yg nulis itu org yg blum paham,tp asal ngemeng.g bs menafsirkan,asal menafsirkan dawuh syeikh ahmad nawawi,guru sy murid syeikh abdullah banten cucu dr syeikh ahmad nawawi al bantani,beliau jg tahlilan.lu dh bikin postingan ky gt jg bid’ah.
    dasarrr combro puprol.

  11. penulis ini telah berdusta,dg mengatasnamakan imam assyafii dan imam ahmad nawawi mengharamkan tahlilan.secara sengaja
    kau telah menyinggung dan merendahkan orang NU.

  12. tahlil oleh…. tahlilan ora oleh..
    yasin oleh… yasinan ora oleh..

    nek ngono..
    kathok oleh, kathokan sing ra oleh
    sempak oleh… sempakan ora oleh…

    oalah le…le…
    ndang copoto sempakmu!!
    ngaji sik sing bener…

  13. Tahlil kan isinya .. pembacaan ayat suci alQur’an ,berdzikir.. bertasbish. bertahmid dan bertakbir.. kok dibilang bid’ah.. bukannya Rasul mengajarkan birdzikir. bertahmid, brtasbih dan bertakbir??? kalo soal makanan yang disediakan .. itumah urusan mampu atau tidak.. kalau tidak juga ga dipaksakan…buuung.. saya ga ngerti darimana sudut bid’ahnya??? juga dalam acara tahlilan itu memperpanjang tali silaturrahiim.. yang jarang ketemu jadi ketemu… dari mana bid;ahnya??? eddddaaannn. KALO SOAL NERAKA GARA-GARA BID’AH… KITA SEMUA BID’AH.. BUUUNG MUKE ENTE BID’AHH

  14. hahaha…..udah gk usah ributin maslah bid ah….klo kita sendiri masih kdg embat yang harom…….Islam di Indonesia dengan NU nya memiliki kearifan lokal sesuai kultur Indonesia…….kalo wahabi itu kan pake kultur asal ajaran wahabi juga…….makanya klo dibawa ke Indonesia gk bakal ketemu bro……kita damai aja kenapa ikhtilaf pasti ada sepanjang islam ada…….cari kesamaan aja kenapa……..wassalam

  15. Wahai Ikhwan…. Saya slah satu org yg mudawamah thlil. Dan itu atas tukilan dri gru saya.. Yg mau mengharamkan sok aja. Saya mah mau tetep tahlilan,,,akan tetap mendo’akan ahli kubur, ngaran nageh nyare’at..

  16. tahlilan dilarang menyanyikan lagu indonesia raya dilarang mengormati bendera merah putih dilarang menurut pandanganmu yang dangkal itu karena tdak dilakukan oleh rosululloah, aku gak maido karena aku paham bahwa kamu ilmunya sangat dangkal sekali, bagaikan kamu memandang sungai yang kau ketahui hanyalah air, tapi orang yang tahu pasti akan mengatakan dibawah air masih banyak benda yang lain, belajar lagi dong biar gak bodoh

  17. janganlah kamu orang islam yang hidup di indonesia, tapi jadilah orang indonesia yang beragama islam, belum seberapa ilmumu le le dibanding kh. wahab hasbulloh, kh. hasyim asyari, dan ulama ulama terdahulu, harusnya kamu malu hidup di indonesia sok pinter kayak sudah pernah mati aja

  18. Kita bisa diketawain agama lain.begitu aja d ributin.yg ngamalin ya ngamalin.yg tdk pun tak apa apa.kita ikut aja guru kita masing2 yg penting kita ngaji pakai guru jgn pakai buku atau internet nanti yg tanggung jawab di akhirat siapa?

  19. Yang kaga seneng ama tahlil.sama ajah kaga seneng zikir,,,,,orang yg ga seneng zikir,,,,sama ajah kaga seneng ama Rosul,,,yang kaga seneng ama Rosul berarti kafir,,siapa ajah dari anda yg kaga seneng ama tahlil datang ke Ane,Bawa smua dalil & Kitab2 yang anda punya,,, biar Ane jelasin,,,Pentingnya Tahlil Buat yg masih Hidup dan yg Mati,,,,Bahlul ente kalo menganggap tahli itu Bid’ah,,,,,

  20. Tahlilan itu sarana berkumpul untuk berdoa dan berdzikir bersama mendoa kan org yg telah meninggal . apa kamu yakin mendoa kan saudara mu tetangga mu sendiri di rmh . padahal di waktu sholat mu aja masih inget segala macem ( ga fokus .

    1. jenengan pernah sholat trfokus langsung ke allah swt,.
      jangan sok pinter jika tidak mau di rendahkan,

      ijo2 benderane NU.

  21. massa Allah pada ribut tahlilan bae kapan rampunge,,kae maning jenggot tembe selembar be wis sombong main mengharamkan tahlil,solawat,,mending rika sing pada ora tahlilan urip neng arab bae nganah aja neng indonesia,,gawe reang tok awit mbiyen teli aman,,,hidup tahlilan,,Wahai nabiku Muhammad Saw aku di haramkan bersolawat kepadamu aku harus bagaimana padahal kami cinta engkau ya rosul,,kami ingin berjumpa dengan Allah sambil bergandeng tangan denganmu,,,Sollu ala nabi muhammad,,,,,

  22. amalan yg akan terus mengalir smpe mati adalah sedekah dan doa anak yg soleh, trus klo kita melakukan doa tahlilan dan ngasih makan pra tamu yg datng itu bukan amalan. tolong dicermati yg bikin postingan ini jangan ambil gampangnya aja.klo nte yg mti siapa yg bakalan ngurus smua kbutuhan nte ktika mati trus siapa yg bkalin ngedoain nte di kburan nte trus yg bkal nemenin nte dialam kubur nnti siapa.mknya ngaji dlu yg bener,meskipun sy orang awam tpi tahu mana yg bener.amalan kita semasa didunia yg akan menjadi temen kita di alam kubur dan doa dari anak yg soleh yg akan terus mengalir ke kubur kita.

  23. Klo do’a kt gak sampai lo mati dulu nti gue do’ain, klo gak sampe lo bilang ama orang2, itu klo loh mo bukti, bukan katanya

  24. Klo saya ikut tahlilan dan juga yasinan itu biasa. Untuk doakan orang meninggal. Semoga di ampuni dosa2xnya aamiin2x ya alloh.

  25. Semoga ketika sipenulis wafat semua amal buruk sipenulis diterima allah dan amalnbaiknya ditolak amin, jangan marah ya soalnya menurut ente doa saya ngak akan sampai…

  26. emg susah ngadepin wahabi sok suci. He.. wahabi, lu o babe lu mati n yg takziyah bw beras knp ga lu tolak aja, emg ada ajaran takziyah bw beras, trz yg takziyah ga dpt apa2 ya nurut lu, tu jg budaya tp tujuanx baik. jgn sok gt ah, seakan surga lu n golongan lu doang yg mo nempetin

  27. org ni aneh, blg sok bnr2 ngikuti tuntunan Rasul, tp 1 syawal g mau rukyat sesuai ajaran Nabi, malah dihitung pke sempoa. klo nyalahin org ma enak tp ngaca dl yach..smg dimaaf smuax

  28. Assalamualaikum kang.jgn diperdebatkan mslh tahlilan kang.kalau njngn g suka ya udah.berarti njngn stlh sholat g prnh wiridan ya/tdk prnh membaca alquran apa kang .tahlilan itu kang yg dibaca lafadz yg tdk lps dr tuntunan nabi kita .cuma beda cara aja.kita baca tahlil juga dianjurkan nabi stlh sholat kan dianjurkan membbaca wirit subhanallah alhamdulillah laailahaillallah astagfirullah dll kan?anda tdk menyadarinya bahwa itu jg ada kalimah tahlil disitu.apa benar tahlilan& membaca sebagian ayat alquran yg sudah diformat dlm bacaan tahlil itu slh.kalau emang begitu anda justru menganggap ajaran nabi kita & alquran tdk ada manfaatnya dong .bnr g kang?kalau anda menganggap tanlilan itu bid ah krn tdk diajarkan nabi.berarti anda jg tlh bnyk melakukan hal2 yg tdk dilakukan nabi .betul g? bnr g?jgn mudah menyebut orang melakukan bud ah.pdhl anda sendiri melakukanya.dipahami dl arti &pembagian bid ah itu sendiri.jgn mudah menghukumi orang lain melakukan hal yg tdk diajarkan agama hanya karna beda pemahaman saja.apalagi memvonis orang yg tahlilan msk neraka.emang kelompokmu saja yg bs masuk surga.memang surganya Allah sudah di boking oleh kelompokmu .shgga klmpkmu saja yg bs msk surga yg lainya tdk nlh.hati hati kalau ngomong mslh hukum agama kalau kamu blm tau hukum yg sebenernya.

  29. Menetapkan hukum itu jgn hanya berpedoman pada satu dalil saja .tp ada bnyk perpaduan dasar 2 dalil hukum yg lainya.anda lg tahu satu dalil aja udah sok paling alim dw .ulama nu yg jauuuh alim ketimbang sampean bnyk kang.yg mengarang rangkaian tahlilan itu alim ulama yg tdk lps dari alquran& alhadits.tdk ngarang sendirii.kalau orang alim yg ngarang tdk mau mengikuti.tp kalau orang kafir ngarang cerita kamu membacanya.gmn toh katanya sok islami eh mlh …?ngaji dl yg bener ya.ilmu itu mah kurang utk mengurai mslh tahlilan

  30. Kang kalau mau melarang orang tahlilan ya kelompokmu saja.jgn kelompok orang lain krn klmpk orang lain membolehkan jgn kamu melarang yg diperbolehkan oleh klmpk orang lain.jgn memaksa utk mengikuti klmpkmu tahlilan itu tdk wajibkan tp jg tdk ada slhny toh lawong membaca kalimah toyyihah(tahlil)&membaca ayat alquran juga membaca sholawat nabi engkau anggap salah&tdk ada mangaatnya tp kamu membaca koran engkau anggap benar&ada manfaatnya apa kamu udah gendeng apa?yg salah itu kelompokmu cara memahami dalil & hadits nabi.makanya kalau memahami ngaji kitab itu jgn apa adanya .apa lg ngaji yg sudah ada trjmahanya asal asalan.mengartikan dalil&itu harus tau asbabul nuzul&asbabul wurutnya jg memakai ilmu nahwu sorof.ilmu mantuq juga ilmu balaghoh.duklmpkmu ada tdk ilmu itu?kalau tdk ada ys bnr cara memahami& mengartikan hadits juga alquran apa adanya juga asal asalan saja

  31. Dizaman nabi sampai ke tabiin rabiin tdk ada tahlilan sprti skrng yg ada ttp dizaman nabi sampai tabiin tabiin sudah ada bahkan dianjurkan membaca kalimah tauhid bahkan diwajibkan bagi seseorang yg mau masuk islam membaca kalimah syahadat rauhid(asyhaduan “laa ilaa ha illallah”) .tahlil itu kan definisinya kan membaca laa ilaa ha illallah titik .adapun yg lainya sbg tmbhn saja.masak membaca gitu kau anggap salah..dmn jln fikiramu?emang dijmn nabi tdk ada tahlilan sprt skrng ini dlm acara 1 7 40 100 hari dan strsny.dijaman nabi tdk ada madrasah pondok pesantren,apakah ada alqur an sprti skrng satu glondong/30 jus dl yg ada cuma ditulis dikertas dikulit hewan dan dilain lain .dulu dizaman nabi apkah ada tv radio handpond utk media dakwah.dijaman nabi & negara arab mknan pokoknya gandum apa kamu mau ikut gandum?nabi istrinya 99 apa kamu jg mau pny istri 99?istri satu aja tdk bs membimbing dgn bnr.dijaman nabi apa ada mobil pesawat kendaraan?sedangkan kamu memakainya setiap hari.kalau kamu emang hidupmu ingin menyontoh smua yg dilakukan nabi,knp kamu masih bawa hp,pake kndraan,kno tdk pke pakean srba putih tdk pake jubah & sorban.nabi tdk prnh menkafirkan umatnya,tdk prnh menyalahkan umatnya,nabi tdk prnh menyakiti sama orang yg beda agama apalagi menyakiti hati sesama agama.akan tetapi kamu justru sebaliknya.sebelum kamu mengkafirkan orang lain kamu sendiri sudah kafir,seblm kamu membid’ah kan orang lain kamu sndri sudah melakukan bid ah.jgn negara arab yg dijadikan pegangan hukum.indonesia umat islam trbsr didunia.,organisasi trbsr di indonesia adlh nu.blh negara arab atau manapun negara lainya tdk ada tahlilin.ttp bukan berarti tahlilan di indonesia jg dilarang.ulama ulama nu yg alim alamah yg tingkatan wali jg bnyk bro,.sekali lg jgn negara arab sbg patokan hukum contohnya :jgn memutuskan hari raya ikut ikutan dgn negara arab.ttp dgn ketentuan hukum yg sudah ada.beda negara beda bhsny,beda orangnya,beda wilayahnya,beda waktunya.makanya kalau mau memutuskan hari raya jgn ikut ikutan arab,msk memutuskan lbrn dg ikut ikutan sih,yg bnr dgn hukum yg diajarkan nabi dong.benar nabi kt brasal dr negara arab tp yg begitu jg x dlm memutuskan hukum.duliat dl sikon&kondisinya bro jgm disamakan.adat.&budayanya jg beda.apakalo kt meniru adat dari agama lain sprti 40. 100 .1000hari itu slh?ya tdk donk.kita ambil yg baik yg buruk buang.bagaimana dgn anda yg memperingati hari kmrdekaan setiap tgl 17agustus ,merayakan tahun baru islam,merayakan ultah anakmu,&menyanjung nyanjung pimpinan kelompokmu?apakah itu smua bid’ah&brtentangan dgn ajaran islam? Tentunya tdk donk.jdlah orang yg bijaksana dlm memutuskan suatu hukum jgn sak karepe pikiranmu dw.kami jg pny pegangan hukum yg lbh kuat drpd ente.ngertimu mong agek semono tak maklumilah.sudah jgn dibhs lh mslh tahlilan.kalo kamu g mau tahlilan ys silahkan tdk papa kamu jg tdk berdosa& tdk fpt pahala kok.justru kamu akan berdosa kalau menghalangi /melarang yg mau berbuat baik.ttp kalau ada orang yg tahlilan jgn kau larang.emang kamu siapa melarang orang tahlilan.nabi & Allah saja tdk melarang kok .tapi kalau orang nu ttp tahlilan karna suatu amalan yg ada manfaatnya bagi orang yg sdh meninggal / bagi pembacanya ok!!!.kalau kamu tdk prcy matio ndisik tak bacakan alquran & tahlilan serta doaya.sbnrny mah bnyk yg mau saya komentari tntng postingmu yg murahan itu.tobatlah sblm trlmbt wassalam

  32. Jgn perbedaan dijadikan perpecahan.jdkan perbedaan itu sbg rohmatallil aalamiin.NU tdk prnh mengomentari anda tdk mau tahlilan..ituksn hakmu.tp knp anda suka ngoment orang lain.koment aja dirimu sendiri.masih kotor tuh qolbumu.sukanya ngorek ngorek kesalahan orang lain.wahai saudara saudaraku jgn terpengaruh oleh pastinganya dia diatas yg menyesatkan yg bs menjauhkan diri kita utk selalu ingat kpd Allah krn tahlilan itu isinya smua mengingat/menyebut nama allah& rosulnya.lanjutkan tahlilanmu .kalau perlu ditambh baca maulidurrosul &manaqipan kanjng stech abdul qodir al jailani.itu smua sama sekali bertentangan dg syariat islam.hidup NU!!!

  33. Assalamualaikm.. mngkn mnrt postngn diatas thlilan kurng tepat dilakukan saat org mninggl, krna klo tahlilan di tmpt kta tuan rmh yg mnyediakn mknn bwt ttngga. Sma hal,y dtmpt sya. Hrs,y qt sbg ttngga yg ngsh mknn bwt mreka. Mngkn tahlilan it lbh baek klo dlakukn dluar saat org mninggl, misal perkumpulan remaja atw pas lg yasinan. Mngkn lbh baek. Mngkn it mksd postngn it tnp hrz brbruk sngka.

  34. Indonesia tidak cocok dengan wahabi,yang selalu bener sendiri yang lain salah,yang lain neraka dia ahli sorga sendiri.memang yang paling mirip dengan prilaku orang yahudi dan nasrani ya golongan wahabiiii ini,mereka mengatakan LAN YADKHULAL JANNATA ILLAMAN KANA HUDAN AW NASHARA. Stop Wahabi……….di Indonesia Allahu akbar. ………

  35. Assalammu’alaikum…?

    Sebelumnya saya minta maaf ya..?
    Bukanya saya sok pinter atau bagaimana… untuk bagi anda yang agamanya ISLAM. Tolonglah untuk menghargai sama lain… hindu,budha, katolik, kristen, dan ISLAM atau entah agama lain tolong untuk saling menghargai.

    Sekilas tentang tahlil…
    Memang pada jaman Rassulullah a.w itu tidak ada tahlil itu benar… dan di arab pun tidak ada acara tahlil…
    Tapi… kita itu hidup di indonesia khususnya di jawa… zaman dulu itu orang jawa banyak yg menganut ajaran budha dan hindu… dan aku mau tanya…? Siapa yg menyebarkan agama islam di indonesia terutama di jawa…?

    Jawabanya adalah para pedagang/saudagar asing yg masuk ke indonesia… salah satunya adalah para WALI SONGO. Singkat cerita…
    Dulu kanjeng sunan kalijaga kesulitan untuk menyebarkan agama ISLAM di jawa. Karena banyak masyarakatnya yg masih menganut ajaran hindu & budha… kemudian kanjeng sunan kalijaga membuat media budaya seperti lagu, wayang kulit, ketoprak dan lain sebagainya… kemudian masyarakat mulai tertarik. Dan itupun kesempatannya kanjeng sunan kalijaga. Dan media itu sedikit diganti/ dijrumuskan ke nilai agama ISLAM. Dan masyarakatpun mulai bisa menerimanya..
    Singkat cerita…
    Kanjeng sunan pun masih cemas dengan masyarakat. Karena susah meninggalkan ajaran-ajaran sebelumnya.. seperti ada upacara penyembelihan kerbau setelah kematian.. dan berpesta-pesta saat ada keluarga yg meninggal..
    Dan masyarakat sulit dan bahkan menolak untuk meninggalkan upacara tersebut saat kanjeng sunan menegur menasehati masyarakatnya.. maka dari itulah… daripada berhura-hura, berpoya-poya. Kanjeng sunan menggantinya dengan zikir-wirid dan bacaan surat-surat di dalam Al-Qur’an. Maka masyarakat menerimanya dengan kata sebutan TAHLILLAN yang terkenal sampai sekarang.

    Kalau masalah soal makanan…
    itu sudah ada sejak zaman Rossulullah a.w. itu cerita saat Rossulullah pulang membawa oleh-oleh batu kepada istri/anaknya… ( gx perlu saya critakan. Masak anda orang ISLAM gx tau sejarahnya ?)
    La batu itu sekarang di ganti dengan makanan. Untuk oleh-oleh yg ada di rumah..

    Wong nug di paringi oleh-oleh mesti seneng’e rakaruan..

    Ya itu sedikit cerita dari pengalam hidupku…

    Mau tahlil.. atau tidak… itu terserah kita.. ya kalau gx terima ya hormati saja lah…

    Gx perlu mencemooh orang lain… atau menghina… sudah sempurnakah anda…? Kalau belum sempurna ya hargai saja to.. gx perlu ngotot…

    LAKUM DIINUKUM WA LIYA DIIN…

  36. yang suka tahlilan monggo di lanjut moga moga jadi amal kebaikan untuk bekal hidup di akhirat, sebab siapapun orangnya yang menerima bantuan doa dari orang lain pasti akan merasa senang dan gembira, dan orang yang bisa membuat senang orang lain dengan amal kebaikan doa dan kerelaan waktunya yang dikorbankan untuk orang lain insya allah akan mendapat balasan dari Allah dan tercatat sebagai amal yang sholikh dan solikah.
    dan bagi yang anti tahlil silahkan melakukan kegiatan ingah ingih atau lainya kalau dikampung mirip kintel ketulup, semoga jugalekas mendapat hidayah dari Allah swt.

  37. mashaa allaah
    yang ngaku tahlilan
    tanpa dalil….
    bangga dengan perbuatannya…
    menjelek jelekan saudaranya sendiri
    pada bagian mana si penulis menghina kalian atau amalan yang kalian anggap “baik” ? kecuali dengan dalil alquran Dan hadist shahih… inshaa allaah..
    coba..
    dibagian mana?

    yg penulis coba sampaikan adalah kebaikan hakiki dari allaah Dan rasulnya (dalil)…
    apakah kalian tidak merasa aneh?
    berfikirlah…
    jika kalian mengaku Muslim…
    seharusnya kalian mengkaji tulisan di atas…
    baru menilai….
    jangan mentang mentang ngerasa paling banyak yg ngerjain tahlilan… ente bisa mencemooh saudaranya ente yang berkata berdasarkan alquran Dan hadist shahih… yang padahal ITU berasal dari sesembahan kita allaah… laaa ilaaa ha illallaah (tahlil)

    wa allaah a’lam

    semoga kuta semua diampuni allaah subhaanahu wa ta aala…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s