•DAKWAH KEPADA PENYATUAN AGAMA•

Pemahaman Keliru: Salafi telah Menciptakan Pemahamannya Sendiri Mengenai Ahli Kitab Masa Kini

Seringkali dikatakan bahwa keimanan Salafi berbeda dengan ‘mainstream’ Muslim kerana mereka tidak mengaggap Ahli Kitab masa kini sebagai saudara dalam kepercayaan monotheis Ibrahim.

Kesalahan dalam Menafsirkan Ayat-Ayat Al-Qur’an

Antara ayat-ayat Al-Quran yang digunakan oleh mereka yang berhajat menyatukan umat mengutip riwayat berikut dari ulamanya para Sahabat, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir:

“Alib in Abi Thalhah meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata mengenai ayat berikut:

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian” (QS Al-Baqarah [2] : 62)

Namun, setelah (mewahyukan) ayat ini, Allah menurunkan ayat yang berikut:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS al-Imran [3] : 85)

Berdasarkan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Ibnu katsir (wafat 774 H), seorang mufassir klasik, berkata: “Apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas itu merupakan pemberitahuan bahwa Allah tidak akan menerima suatu jalan atau amalan dari seseorang kecuali yang sesuai dengan syariat Muhammad setelah beliau diutus sebagai pembawa risalah. Sedangkan sebelum itu, maka semua orang yang mengikuti Rasul pada zamannya, mereka berada di atas petunjuk dan jalan keselamatan.

Maka ketika Allah mengutus Muhammad sebagai penutup sekalian Nabi dan Rasul kepada anak keturunan Adam alaihissalam, maka menjadi kewajiban mutlak bagi mereka untuk beriman kepadanya pada apa yang beliau kabarkan (kepada manusia), dan mentaati beliau dalam apa yang telah diperintahkannya (kepada manusia), dan meninggalkan apa yang beliau larang.

Dalam wahyu terakhir, Allah menunjuki umat sebelumnya, Yahudi dan Nasrani, menjauh dari gelapnya kekufuran yang perlahan-lahan menyusup ke dalam aqidah mereka, kepada cahaya Tauhid murni.

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:

“Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”.” (QS Al-Ma’idah [5] : 17)

Bukanlah “Wahhabi” yang telah memberi istilah pada keimanan ini yang telah diperkenalkan setelah masa Isa alaihissalam sebagai kafir, namun berasal

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orangorang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS Al-Imran [3] : 64)

Allah tidak memerintahkan orang-orang Muslim untuk MENCOBA MENYATUKAN AGAMA dengan menciptakan campuran keagamaan. Sebaliknya, Dia memerintahkan Muslim untuk dengan tenang, sopan dan tegas menggugah akal rasional siapapun yang melibatkan dirinya dalam sebuah diskusi. Jika gagal melakukannya, Dia memerintahkan Muslim untuk tetap tegar di atas keimanan yang dianutnya, dan menjelaskan esensi Islam dalam pernyataan terakhir: “Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:

“Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

Ada yang berkata: “Saya bosan mendengar Islam dan kaum Muslimin digambarkan sebagai (sesuatu yang) asing dan berbeda. Kami adalah saudara sepupu Yahudi dan Kristen. Kami menyembah Tuhan yang sama, mengikuti ajaran Nabi yang sama, dan beriman pada kitab yang sama. Kita semua adalah pengikut Ibrahim.”

Kebenaran Tidak Selalu Sejalan dengan Keinginan Kita Meskipun pernyataan ini mungkin menarik bagi sebagian orang, Ini bukanlah sesuatu yang memiliki dasar dalam kitab-kitab wahyu dari langit manapun. Sebaliknya, Sunatullah selalu membedakan antara hamba-hamba-Nya dengan memberikan cobaan kepada mereka, tidak mengumpulkan sekompok manusia bersama-sama dalam dogma yang tidak berarti.

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya186 dan memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (QS An-Nahl [16] : 93)

Wallahua’alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s