NASEHAT ULAMA

Hukum asal di dalam dakwah adalah dengan al-Lîyn (lemah lembut), ar-Rifq (ramah) dan al-hikmah, inilah yang asal di dalam dakwah.

Apabila -barokallôhu fîka- anda temui orang yang menentang dan tidak mau menerima kebenaran padahal anda telah menegakkan hujjah padanya namun ia menolaknya, maka pada saat itu anda dapat menggunakan ar-Radd (bantahan). Apabila anda adalah seorang sulthan (penguasa) sedangkan orang tersebut adalah seorang da’î (yang menyeru kepada kebatilannya, pent.), maka luruskan ia dengan pedang.

Dan acapkali perlu sampai dihukum mati apabila ia tetap bersikeras menyebarkan kerusakannya. Dari sinilah ada sebagian ulama dari berbagai madzhab yang berpendapat bahwa orang semisal ini memiliki kerusakan yang lebih besar daripada orang yang merampok di jalanan. Orang semisal ini perlu dinasehati dan ditegakkan hujjah atasnya. Apabila ia masih enggan (menerima kebenaran), maka pada saat itu seorang penguasa (hâkim) syar’î harus menghukumnya, baik dengan memenjarakannya, menghentikannya atau membunuhnya.

Para ‘ulamâ` menghukumi al-Jahm bin Shofwân dan selainnya, juga Bisyr al-Marîsî dan selainnya, agar dihukum mati (dibunuh) –barokallôhu fîka-.

Diantara mereka juga adalah al-Ja’d bin Dirham. Ini adalah hukuman para ’ulamâ` terhadap orang-orang yang menentang dan bersikeras di dalam menyebarkan bid’ahnya. Apabila Alloh memberikannya menfaat dan mereka mau tarôju’ (bertaubat), maka inilah yang dikehendaki.
[http://www.sahab.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s