Hukum Puasa Hari Sabtu

لا تصوموا يوم السبت إلا فيما افترض عليكم فإن لأم يجد أحدكم إلا لحاء عنبة أو عود شجرة فليمضغه
“Janganlah kalian berpuasa pada hari sabtu kecuali puasa yang diwajibkan atas kalian. Maka jika seseorang tidak mendapatkan kecuali kulit pohon anggur atau ranting maka kunyahlah itu.” (HR. ‘Abd bin Humaid dalam “Al-Muntahab” tahqiq Musthafa Al-‘Adawi hadits ke 507, Abu Daawud 2421, At-Tirmidzi 744, An-Nasaa’i dalam “Sunanul Kubra” 2/143 dan yang lainnya)

Para Ulama berselisih pendapat dalam menilai keabsahan hadits di atas. Sebagian Ulama mendha’ifkannya, sebagian yang lain menghasankannya. Bagi Ulama yang menilai dha’if hadits tersebut membolehkan puasa di hari sabtu secara mutlak. Di antara mereka adalah:

1. Al-Imam Maalik, “Hadits ini dusta.” (Dinukil oleh Abu Daawud dalam sunannya hadits 2424)
2. Al-Imam Ahmad, “Hadits-hadits tentang puasa hari sabtu semuanya kontradiktif.” (“Iqtidhaa Shiraathil Mustaqiim” nukilan dari Al-Atsram – namun dalam Al-Mughni 3/166 Imam Ahmad membolehkan puasa hari Sabtu dengan catatan menyertakannya dengan hari lainnya)
3. Dinukil dari Al-Imam Az-Zuhri pendha’ifan hadits tersebut. (Syarh Ma’aanil Atsar 2/81)
4. Abu Daawud, “Hadits ini mansuukh (terhapus hukumnya).” (Sunan Abi Daawud 2/806)
5. An-Nasaa’i, “Hadits ini mudtharib (goncang).” (Nukilan Al-Haafidzh Ibnu Hajar dalam “At-Talkhiish”)
6. Al-Imam At-Thahaawi menghukumi hadits tersebut syadz.” (Syarh Ma’aanil Atsar 2/80)
Hadits tersebut dihukumi syadz karena menyelisihi hadits shahih riwayat Al-Bukhari (1986) dari Juwairiyyah bintul Haarits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam pernah menemuinya sedang berpuasa di hari jum’at. Maka beliau berkata, “Apakah engkau kemarin berpuasa?”, ia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau ingin berpuasa esok (sabtu)?”, ia berkata, “Tidak”, beliau berkata, “Kalau begitu berbukalah (jangan puasa).”

Hadits Juwairiyyah di atas tegas menunjukkan bolehnya berpuasa di hari sabtu sekalipun bukan puasa yang wajib.
Sedangkan sebagian Ulama lainnya menilai hasan hadits larangan puasa di hari sabtu, sebagaimana penilaian At-Tirmidzi, atau bahkan shahih sebagaimana penilaian Al-Haakim. Kendati demikian para Ulama yang menilai sahnya hadits tersebut membawa larangannya kepada pengkhususan hari sabtu untuk berpuasa, yakni karena harinya, sebagaimana perbuatan orang-orang Yahuudi yang mengagungkan hari sabtu dengan cara menahan diri dari makan, minum dan jimaa’. Adapun jika hari sabtu itu bertepatan dengan puasa Daawud, ‘Arafah, ‘Aasyuura atau puasa sunnah lainnya maka hal itu tidak mengapa. (Lihat Sunan At-Tirmidzi 3/111, An-Nawawi dalam “Al-Majmuu’ 6/429, Ibnu Qudaamah dalam “Al-Mughni” 3/166, At-Thahaawi dalam “Syarh Ma’aanil Atsar” 2/81 dan yang lainnya)
Demikian sedikit ulasan tentang hukum puasa di hari sabtu.

Wa billaahit tawfiq.

Ustaz Fikri Abul Hasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s