Menangkis Fitnah Farouk A.Peru terhadap Abu Hurairah-Radiyallahu’anhu-

Jawapan kami kepada Farouk A.Peru dari golongan Quranis atau Ingkar AsSunnah (sebagaimana yang tertulis pada wall group Malaysian Quranic Education Society):

Farouk A.Peru ini terlalu banyak fitnahnya kepada Islam dan umatnya. Dia dengan bangganya mengatakan Nabi Muhammad-Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- hanya sekedar seorang posman dan tugasnya hanya menyampaikan risalah. Putar belit dan dustanya saban hari semakin kronik hingga memualkan setiap umat Nabi Muhammad-Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam-yang membaca komen-komennya.

Tiap hari ada saja suntikan fitnahnya terhadap sahabat Rasulullah -Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- iaitu Abu Hurairah-Radiyallahu ‘Anhu-. Tohmahannya bahawa Abu Hurairah adalah seorang :

1. ‘poser’ ,
2. penipu .

Encik Farouk tidak takutkah balasan Allah atas kezaliman saudara kepada Abu Hurairah-Radiyallahu ‘Anhu-? Dengan mudahnya Encik Farouk menggelarkan seorang sahabat sebagai penipu? Tanpa rasa takut dan malu kepada Allah, dia dengan yakin dan pasti bahawa hadis2 riwayat Abu Hurairah adalah rekaan semata. Dia malah berkata bahawa sekiranya Abu Hurairah ‘kantoi maka semua para riwayat juga kantoi’. Demikian yang dituduhkan oleh Encik Farouk tentang para tokoh sahabat Rasulullah-Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam-. Seakan-akan dia tidak mendengar firman Allah-Subhanahu wa Ta’la-.

Screen Shot 2015-01-16 at 4.48.39 pm

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, iaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya kerana Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Fath [48]:29)

Screen Shot 2015-01-16 at 4.46.52 pm

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al Fath [48]:18)

Jika apa yang dituturkan oleh Encik Farouk tentang mereka itu benar, tidak ada lagi jalan lain (untuk memahaminya), tidak ada alasan (mengapa mereka seperti itu), tidak ada lagi kemungkinan takwil (penjelasan kembali) kecuali apa yang dikatakan An-Anzhzham maka tetap saja kita layak meninggalkan Encik Farouk dan berpaling darinya. Kerana dia sendiri amat kecil dibandingkan dengan kebaikan-kebaikan para sahabat, perjuangan mereka, persahabatan mereka dengan Rasulullah serta pengorbanan nyawa dan harta mereka di jalan Allah. [1]

Berbalik kepada fitnah Encik Farouk terhadap Abu Hurairah sebagai seorang penipu, memadai satu buah hadis berikut menjadi peringatan buatnya. Sabda Rasulullah-Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- yang disepakati sebagai secara khusus mendo’akan Abu Hurairah agar tidak lupa terhadap hadis yang diceritakan kepadanya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Kalian menyangka aku orang yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah. Demi Allah, masalahnya adalah aku dulu orang miskin. Aku kemudian menemani Rasulullah supaya perutku bisa terisi. Pada suatu hari beliau menceritakan kepada kami, “Barangsiapa membentangkan bajunya hingga aku selesai menyampaikan perkataanku, kemudian dia mengikat bajunya itu, maka dia tidak akan lupa dengan apa yang didengar dariku selamanya’. Aku pun melakukannya. Demi Dzat yang mengutusnya dengan kebenaran, setelah itu aku tidak lupa dengan apa yang aku dengar dari beliau.”. [2]

Ada riwayat lain tentang do’a Nabi’Shallallalhu ‘Alaihi wa Sallam- dan berkat do’a Rasulullah-Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- , Abu Hurairah yang mengadu pelupa tidak akan lupa lagi.

Tuduhan Encik Farouk disertakan olehnya dengan hadis dibawah sebagai bukti:

“Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Abu Bakr telah bercerita kepada kami Muhammad bin Ibrahim bin Dinar Abu ‘Abdullah Al Juhaniy dari Ibnu Abu Dza’bi dari Sa’id Al Maqburiy dari Abu Hurairah Radhiyalahu’anhu bahwa orang-orang berkata bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak menulis hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh memang akulah orang yang bermulazamah (selalu meyertai) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perutkuyang hanya kuganjal makanan pokok saja, hingga aku tidak memakan roti dan tidak mengenakan pakaian bagus. Aku juga tidak dibantu oleh seorang pelayan-pun baik laki-laki maupun wanita dan aku biasa mengganjal perutku dengan tanah karena menahan lapar, dan aku juga sering meminta seseorang membacakan ayat yang aku sudah hafal agar terjaga sehingga aku bisa merasakannya. Dan manusia yang paling baik simpatinyanya terhadap orang miskin adalah Ja’far bin Abu Thalib. Dia hilir mudik menemui kami lalu memberi makan kami makanan apa saja yang ada di rumahnya hingga suatu hari dia menyuguhkan kepada kami wadah minyak samin yang tidak berisi apa-apa, lalu kami menjilat sisa-sisa isinya.” [Sahih al-Buhari 3708]

Celaan yang Encik Farouk ucapkan kepada Abu Hurairah sudah masyhur sejak zaman purba. Bahkan, bukan hanya Abu Hurairah, hampir seluruh sahabat Nabi pun didustakan dan dikafirkan oleh golongan-golongan sesat seperti Syiah dan Muta’zilah. Kami tak perlu berpayah-payah kerana cukup satu kata untuk meresponnya : “Dusta”. Kerana bukti Encik Farouk tidak menjelaskan apa-apa. Dia juga tidak membahaskan hanya setakat melempar hadis Ahlul Sunnah. Tidak ilmiyyah.

Mengenai tuduhan Encik Farouk yang menilai Abu Hurairah menipu perlu diketahui bahawa Abu Hurairah bersahabat dengan Rasulullah-Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- selama tiga tahun. Dia sering meriwayatkan hadis Beliau -Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam-, dan memperbanyak periwayatannya selama 50 tahun.

Dia wafat pada tahun 59 H. Sementara Aisyah-Radiyallahu’anhum- wafat setahun sebelumnya. Abu Hurairah pernah berkata, “ Aku seorang miskin, aku berkhidmat dengan Nabi dalam keadaan aku tidak ada apa-apa”. Ia sering mengikat perutnya dengan batu-batu untuk menahan rasa lapar. Ia dikenal sebagai salah seorang ahli shuffah dan tinggal di laman masjid. Dia begitu rapat dengan Nabi-Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam- dan mengikuti Nabi-Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- hampir setiap hari untuk mempelajari dari Baginda dengan penuh dedikasi dan komitmen.

Hadis Abu Hurairah banyak adalah fakta, samada Encik Farouk senang atau pun tidak.

‫عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ قَالَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ: ” يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْتَ كُنْتَ أَلْزَمَنَا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَحْفَظَنَا لِحَدِيثِهِ

Dari Ibnu ‘Umar, bahawasannya ia pernah berkata kepada Abu Hurairah : “Wahai Abu Hurairah, engkau adalah orang yang paling sering mendampingi (bersama) Rasulullah dan paling hafal hadis beliau di antara kami”[3]

Dari riwayat di atas kita mengetahui salah satu sebab mengapa Abu Hurairah banyak meriwayatkan lagi hafal hadits Rasulullah-Sallallaahu ‘alaihi wa sallam-.[5]. Jika sekiranya apa yang hendak ditujukan Encik Farouk bahawa Abu Hurairah menipu dan bersahabat dengan Nabi untuk mendapatkan makanan, maka itu adalah satu kebatilan.

Riwayat-riwayat yang dipakai anti-Islam sebagai dasar tuduhan mereka terhadap Abu Hurairah-Radhiallahu’anhu-, bahawa beliau hanya untuk mencari sesuap nasi yang mengenyangkan perutnya dalam kata lain melakukannya hanya kerana sedikit dunia yang rendah, memang diriwayatkan secara sahih dengan lafadz:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّكُمْ تَقُولُونَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقُولُونَ مَا بَالُ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ لَا يُحَدِّثُونَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَإِنَّ إِخْوَتِي مِنْ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ صَفْقٌ بِالْأَسْوَاقِ وَكُنْتُ أَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْءِ بَطْنِي فَأَشْهَدُ إِذَا غَابُوا وَأَحْفَظُ إِذَا نَسُوا وَكَانَ يَشْغَلُ إِخْوَتِي مِنْ الْأَنْصَارِ عَمَلُ أَمْوَالِهِمْ وَكُنْتُ امْرَأً مِسْكِينًا مِنْ مَسَاكِينِ الصُّفَّةِ أَعِي حِينَ يَنْسَوْنَ

“Sesungguhnya Abu Hurairah berkata: ‘Kalian akan menyatakan, bahwa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits. Dan Allahlah tempat (untuk membuktikan) janji. Juga mengatakan ‘Mengapa orang-orang Al Muhajirin dan Anshar tidak banyak meriwayatkan hadits, seperti periwayatan Abu Hurairah?’ Sungguh, saudara- saudaraku dari Muhajirin disibukkan dengan jual-beli di pasar. Sedangkan saudara- saudaraku dari Anshar disibukkan oleh pengelolaan harta mereka. Adapun aku seorang miskin yang selalu mengikuti Rasulullah selama perutku berisi. Aku hadir saat mereka tidak hadir, dan aku ingat dan paham saat mereka lupa.” [5]

Pernyataan beliau di lafadz pertama “Allah-lah tempat (membuktikan) janji” pengertiannya, bahawa Allah akan menghisabku jika aku sengaja berdusta, (dan) sekaligus akan menghisab orang-orang yang menuduhku dengan tuduhan yang keji.[6]

Adapun pernyataan beliau: “selama perutku berisi“, yakni merasa telah puas dengan sesuap nasi, sehingga beliau tidak pernah tidak hadir di sisi Nabi. [7]

Andaikata tuduhan atas beliau bahawa beliau berbohong hanya kerana sesuap nasi sangatlah dipaksakan sekali dan tidak ilmiyyah. Hal itu kerana Abu Hurairah tidak sekedar menceritakan persahabatannya yang sama-sama dimiliki sahabat lainnya semata. Namun, beliau dalam pernyatannya tersebut ingin juga menceritakan keistimewaan yang dimilikinya. Keistimewaan tersebut adalah kebersamaan beliau bersama Rasulullah-Sallallahu’Alaihi wa Sallam- yang tidak dimiliki oleh yang lainnya.

Keistimewaan tersebut beliau jelaskan dengan caranya yang tawadhu’, dengan menyatakan: “Selama perutku berisi“, lalu menyebutkan keistimewaan para sahabat lainnya, sebagai orang-orang yang mampu dan kuat mencari penghidupan. Hal ini merupakan akhlak yang luar biasa.[8]

Tuduhan Abu Hurairah banyak makan dan bersemangat mendapatkan makanan serta bersahabat dengan Nabi hanya kerana makanan, bukan kerana hidayah Islam atau kecintaan pada Rasulullah-Sallallahu’Alaihi wa Sallam-merupakan tuduhan keji yang hanya dilontarkan orang yang hasad atau orang yang memiliki kerosakan syaraf. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang yang berakal dapat membenarkan pemahaman, bahwa Abu Hurairah sanggup meninggalkan negerinya, kabilah dan tanah airnya demi menjumpai Rasul hanya (sekadar) untuk makan dan minum semata?

Apakah Abu Hurairah di kabilahnya tidak mendapatkan makan dan minum? Lalu untuk apa Abu Hurairah datang ke Madinah? Apakah di negerinya ia tidak mendapat makanan dan minuman sebagaimana yang diperoleh para petani dan pedagang di sana? Tuduhan ini betul-betul pelecehan terhadap sahabat yang mulia ini. Dan para penuduh lebih layak dilecehkan dan diragukan keikhlasannya dari beliau. Hingga sampai sejauh inikah kebutaan hati dan kedengkian mereka?

Pernyataan Abu Hurairah ini telah difahami dengan benar oleh para ulama, seperti pernyataan Imam Nawawi-rahimahullah- ketika menjelaskan perkataan Abu Hurairah (ala mil’i bathni): “Maknanya aku sentiasa mulazamah dengan beliau Sallallahu’alaihi Wasallam. Aku rela dengan makananku. Aku tidak mengumpulkan harta untuk simpanan dan tidak untuk yang lainnya. Dan akupun tidak berusaha menambah porsi makanan bagiku. sedangkan maksud pernyataan beliau ‘melayani‘, bukan sebagai upaya untuk memperoleh gaji atau upah”.[9]

Semoga jelaslah kebatilan ini. Hadis yang dibawakan oleh Encik Farouk tidak sama sekali membuktikan Abu Hurairah seorang penipu dan kami tidak berhasrat untuk memanjangkan jawapan kami lagi. Ini adalah sikap Encik Farouk yang terjangkit dengan pemahaman Syiah yang sahabatfobia. Kelihatan Quranis dan Syiah ada penyakit yang sama.

Encik Farouk jug mempunyai pendapat mengenai beberapa hadis yang dia klaim bertentangan dengan Al Qur’an serta beberapa hadis yang dinilai buruk dari segi logika(akal). Adakah akal dapat menghapus hadis dan hadis dapat saling menjatuhkan atau bertentangan?

Sebagai penutup, kami bawakan pernyataan Ibnu Khuzaimah yang dinukil Dr. Muhammad ‘Ajaaj Al Khathib dalam kitab As Sunnah Qabla Al Tadwiin dari Al Mustadrak ‘Ala Al Shahihain karya imam Al Hakim. Nashnya sebagai berikut:
“Orang yang telah buta hatinya mencela Abu Hurairah hanya kerana ingin menolak hadis beliau. Kerana mereka tidak faham maknanya. Orang tersebut adakalanya seorang mu’aththil jahmi (pengikut alirat sesat Jahmiyah (pen)) yang mendengar hadis-hadis beliau yang menyelisihi mazhab mereka yang kufur, lalu mencela Abu Hurairah dan menuduhnya dengan tuduhan yang Allah telah sucikan darinya dalam rangka membuat opini pada orang awam dan rendahan bahawa hadis-hadis beliau tidak benar. Adakalanya ia seorang khawarij yang mengangkat pedang kepada kaum muslimin dan tidak memandang kewajiban mentaati khalifah dan imam. Jika ia mendengar hadis-hadis Abu Hurairah dari Nabi-Sallallahu’alaihi Wasallam-menyelisihi mazhabnya yang sesat, tidak dapat cara menolak berita-berita beliau ini dengan hujjah maka pada hujungnya mencela Abu Hurairah. Atau seorang Qadariyah (pengikut aliran sesat Qadariyah) yang meninggalkan Islam dan kaum muslimin dan mengkafirkan kaum muslimin yang mengikuti takdir yang telah ditakdirkan Allah dahulu dan tetapkan sebelum hamba itu melakukannya. Jika melihat hadis-hadis yang beliau sampaikan dari Nabi-Sallallahu’alaihi Wasallam- dalam menetapkan taqdir, tidak mendapatkan hujjah yang mendukung pendapat mereka yang merupakan kekufuran dan kesyirikan, maka hujjahnya adalah menyatakan bahwa berita-berita Abu Hurairah tidak boleh dipakai sebagai hujjah. Atau seorang bodoh yang ingin menjadi faqih dan mencarinya bukan dari tempatnya, jika mendengar berita Abu Hurairah menyelisihi pendapat mazhab orang yang dipilihnya dengan taklid tanpa hujjah, maka mencela Abu Hurairah dan menolak hadis-hadisnya yang menyelisihi mazhab mereka dan berhujah dengan hadis-hadis Abu Hurairah atas orang yang menyelisihinya jika hadisnya tersebut sesuai dengan mazhabnya!!!”[9]

Semoga kebatilan sudah dijelaskan.

—————————————————————————————
[1] Ta’wil Hadis-hadis yang dinilai kontradiktif, Ibnu Qutaibah, ms 76.

[2] Ringkasan Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi, ms. 510

[3] Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3836, Ahmad 2/2, ‘Abdurrazzaq no. 6270, dan yang lainnya; shahih.
[4] Silakan baca artikel : Hapalan Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu.
Meskipun demikian, kita (kaum muslimin/Ahlus-Sunnah) tidak pernah menyucikan Abu Hurairah dari kesalahan dan lupa, karena orang setingkat Nabi pun pernah salah dan lupa sehingga Allah Ta’ala mengingatkan dan/atau menegurnya.

[5] Al Bukhari,dalam Shahihnya, kitab Al Buyu’ Bab Ma Ja’a Fi Qaulihi Ta’ala Faidza Qadhaita Al Sholat no. 1906 – III/135. dan Ahmad bin Hambal dalam Musnad Ahmad hadits no. 7273

[6] Fathul Bari, karya Ibnu Hajar, tanpa tahun, Maktabah Al Salafiyah, hlm V/28.

[7] Fathul Bari, op.cit IV/288

[8] Dari pernyataan Al Mualimi rahimahullah dalam Al Anwaar Al Kaasyifah, halaman 147.

[9] Syarh An Nawawi terhadap Shahih Muslim, tashhih Syeikh Kholil Ma’muun Syeihaa, cetakan ketiga tahun 1317 H, Dar Al Ma’rifah, Baerut hlm XV/270

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s