Ahlussunnah mengimani sifat Allah “Berbicara”

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed

Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan para Ashabul Hadits sejak zaman sahabat sampai hari ini telah meyakini bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki sifat kalam (berbicara). Dan mereka meyakini bahwa Allah سبحانه وتعالى berkuasa untuk berbicara kapanpun dia kehendaki.

Allah سبحانه وتعالى telah menjelaskan dengan tegas dalam ayat-Nya:

…وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا. ]النساء: 164[

…Dan Allah telah berbicara langsung kepada Musa. (an-Nisaa’: 164)

Telah diriwayatkan secara mutawatir bahwa ayat ini dibaca dengan rafa’ pada lafdhul jalallah “Allahu”. Dalam ilmu nahwu hal itu berarti Allah sebagai pelaku dari kata kerja kallama atau berarti Allah-lah yang berbicara.

Hanya kaum mu’tazilah yang menyelewengkan bacaan tersebut dengan membacanya secara manshub pada lafdhul jalallah “Allaha”. Sehingga mereka menterjemahkannya “Musa mengajak berbicara Allah”, atau dalam hal ini berarti Musa-lah yang berbicara kepada Allah. Ta’wil ini mereka lakukan untuk menolak sifat Kalam bagi Allah.

Namun, mereka tidak bisa membantah dan mena’wilkan ayat Allah سبحانه وتعالى yang menyatakan:

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ… ]الأعراف: 143[

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb-nya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Rabb-ku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada-Mu”…. (Al-A’raaf: 143)

Dalam ayat ini jelas sekali dinyatakan bahwa yang berbicara adalah Allah, bukan Musa, karena tidak mungkin kata ganti “hu” (“nya”) berlaku sebagai pelaku.

Alasan kaum mu’tazilah menolak sifat kalam bagi Allah di atas adalah sama seperti ketika mereka menolak sifat-sifat lainnya bagi Allah. Mereka menganggap bahwa kalau kita mengimani Allah berbicara, berarti menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.

Oleh karena itu bantahan Ahlus Sunnah bagi mereka cukup dengan apa yang kita telah sebutkan pada edisi yang lalu, yaitu berbicaranya Allah sesuai dengan keagunganNya, tidak sama dengan berbicaranya makhluk. Selesai.

Apalagi dalam hadits-hadits yang shahih, banyak disebutkan tentang sifat kalam bagi Allah. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi:

أَتَمْنَعُوْنَنِيْ أََنْ أُبَلِّغَ كَلاَمَ رَبِّيْ؟ (رواه البخاري، وأَبو داود والترمذي وابن ماجه والدارمي وأحمد والحاكم)

Apakah kalian menghalangiku untuk menyampaikan ucapan Rabb-ku? (HR. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Darimi, Ahmad, dan Hakim).

Bahkan disebutkan dalam riwayat yang shahih bahwa Allah benar-benar berbicara dengan suara yang didengar oleh para malaikat. Ini bantahan bagi pendapat kaum Asy’ariyyah dan sejenisnya yang menyatakan bahwa Allah menciptakan pembicaraan, bukan berbicara dengan suara yang terdengar.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا تَكَلَّمَ اللهُ بِالْوَحْيِ سَمِعَ أَهْلُ السَّمَوَاتِ صَلْصَلَةً كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفَا فَيُصْعِقُوْنَ فَلاَ يَزَالُوْنَ كَذَلِكَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ جِبْرِيْلُ حَتَّى إِذَا جَاءَهُمْ جِبْرِيْلُ فُزِعَ عَنْ قُلُوْبِهِمْ قَالَ فَيَقُوْلُوْنَ يَا جِبْرِيْلُ مَاذَا قَالَ رَبُّكَ؟ فَيَقُوْلُ: الْحَقُّ. فَيَقُوْلُوْنَ الْحَقُّ الْحَقُّ. (حديث صحيح رواه أبو داود)

Jika Allah berbicara dengan wahyu, penduduk langit mendengar suara gemerincing seperti rantai yang diseret di atas batu. Mereka pingsan, dan mereka terus-menerus dalam keadaan demikian hingga Jibril mendatangi mereka. Ketika Jibril datang kepada mereka, dicabutlah rasa takut pada hati-hati mereka, seraya bertanya: “Ya Jibril, apa yang telah dikatakan oleh Rabbmu? Jibril menjawab: “Kebenaran”. Maka mereka pun berkata: “Kebenaran, kebenaran”. (HSR. Abu Dawud)

Betapa banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih yang menyatakan di dalamnya “Allah berfirman”. Maka para ulama sangat keras menentang orang-orang yang menolak sifat kalam bagi Allah, yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk bukan ucapan Allah. Bahkan di antara mereka dengan tegas mengkafirkan orang-orang yang menyatakan “al-Qur’an adalah makhluk ciptaan Allah, bukan ucapan Allah”.

Berkata Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah:

الْقُرْآنُ كَلاَمُ اللهِ غَيْرَ مَخْلُوْقٍ، فَمَنْ قَالَ: إِنَّ الْقُرْآنَ مَخْلُوْقٌ فَهُوَ كَافِرٌ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَلاَ تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ وَلاَ يَعَادُ إِنْ مَرِضَ وَلاَ يُصَلَّى عَلَيْهِ إِنْ مَاتَ وَلاَ يُدْفَنُ فِي مَقَابِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. يُسْتَتَابُ فَإِنْ تَابَ وَإِلاَّ ضُرِبَتْ عُنُقُهُ.

Al-Qur’an adalah ucapan Allah, bukan makhluk (ciptaan Allah). Barang siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, maka dia telah kafir kepada Allah yang Maha Agung. Tidak diterima persaksiannya, tidak ditengok ketika sakit, tidak dishalatkan ketika mati dan tidak dikuburkan di pemakaman kaum muslimin. (Hukum baginya adalah) diminta taubatnya kalau mau bertaubat; kalau tidak mau bertaubat, maka dipenggal lehernya.” (Disebutkan oleh adz-Dzahabi dengan ringkas dalam Siyar a’lamu nubala juz 14 hal. 374: (Lihat Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 40-41)

Sebagian mereka –para penakwil sifat kalam bagi Allah- berkilah dengan menyatakan bahwa yang dimaksud ucapan Allah di atas adalah hanya yang didengar oleh malaikat. Adapun ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca oleh kaum muslimin yang ada dalam mushaf-mushaf, maka itu adalah makhluk bukan ucapan Allah.

Menanggapi masalah ini, Imam Ahmad memiliki jawaban yang sangat tepat, tegas dan jelas. Beliau berkata:

اللَّفْظِيَّةُ حَهْمِيَّةٌ، قَالَ اللهَ تَعَالَى: ]فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللَّهِ…[. مِمَّنْ يَسْمَعُ؟!

Barangsiapa yang mengatakan al-Qur’an dengan lafadz kita adalah makhluk, maka dia termasuk jahmiyah. Karena Allah telah berfirman: “…. maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengarkan firman Allah.” Dari mana mereka mendengar?! (Lihat aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al Manshuri, hal. 42)

Adapun yang dimaksud oleh Imam Ahmad adalah ayat:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَعْلَمُونَ. ]التوبة: 6[

Dan jika salah seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia, supaya ia sempat mendengarkan firman Allah. Kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (At-Taubah: 6)

Imam Ahmad berdalil dengan ayat di atas bahwa yang al-Qur’an dibaca oleh kaum muslimin adalah ucapan Allah. Hal itu karena orang-orang kafir yang diberi perlindungan (suaka politik) di negeri kaum muslimin, diharapkan dapat mendengarkan ucapan Allah, yang tentunya didengar dari bacaan-bacaan kaum muslimin di masjid-masjid, di rumah-rumah mereka dan lain-lain.

Berkata Imam Ash-Shabuni رحمه الله: “Ahlul hadits mempersaksikan dan meyakini bahwa al-Qur’an adalah ucapan Allah, kitab Allah, wahyu Allah yang diturunkan oleh Allah; bukan makhluk (ciptaan Allah). Barang siapa yang mengatakan al-Qur’an adalah makhluk dan meyakininya, maka ia telah kafir menurut mereka”. (Lihat Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 40)

Selanjutnya beliau berkata: “Maka ayat-ayat al-Qur’an yang dihafalkan dalam dada-dada, yang dibaca di lisan-lisan, yang ditulis dalam mushaf-mushaf, dibaca oleh pembacanya, dilafadzkan oleh orang yang melafadzkannya, dihafalkan oleh para penghafalnya, di mana ia dibaca dan kapan pun dikumandangkannya, dicetak di dalam mushaf-mushaf kaum muslimin, dicatat dalam papan-papan tulis anak-anak dan lain-lainnya semuanya adalah ucapan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung, bukan makhluk. Barangsiapa yang menganggapnya sebagai makhluk, maka dia telah kafir kepada Allah yang Maha Agung” . (Lihat Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 40)

Sesungguhnya apa yang dikatakan oleh para ulama di atas sangat jelas yakni al-Qur’an adalah ucapan Allah, dan ucapan Allah adalah Maha Sempurna. Dan jika kita biarkan mereka -ahlul bid’ah- menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk Allah, maka berarti kita menganggap bahwa al-Qur’an tidak sempurna, karena tidak ada satu makhluk pun yang sempurna.

Oleh karena itu ketika seorang membaca al-Qur’an kita katakan bahwa dia sedang membaca ucapan Allah.
Ketika seseorang menulis ayat-ayat al-Qur’an, kita nyatakan bahwa dia sedang menulis ucapan Allah.
Ketika seseorang sedang menghafalkan al-Qur’an, kita meyakini bahwa dia sedang menghafal ucapan Allah.

Demikianlah seterusnya Ahlussunnah sejak zaman para shahabat sangat terbiasa dengan bahasa-bahasa yang demikian dan menyebutkan al-Qur’an dengan Kalamullah (ucapan Allah).

Berlindung dengan Kalimat Allah bukan merupakan kesyirikan

Ada satu bantahan lagi yang membuktikan keyakinan Ahlussunnah bahwa al-Qur’an ucapan Allah bukan makhluk. Bukti ini membantah ahlul bid’ah dari kalangan mu’tazilah, asy’ariyah atau pun yang sejenisnya dari para rasionalis yang mengatakan bahwa al-Qur’an makhluk. Yaitu perintah Rasulullah صلى الله عليه وسلم agar kita berdoa dan berlindung dengan kalimat-kalimat Allah, seperti dalam doa beliau صلى الله عليه وسلم:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ.

Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan-kejahatan makhluk-makhluk-Nya.

Hal ini membuktikan bahwa kalimat-kalimat Allah adalah bukan makhluk, karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak mungkin mengajarkan kesyirikan, yaitu berdoa dan berlindung kepada makhluk. Kedudukan doa itu sama dengan doa-doa Nabi صلى الله عليه وسلم lainnya yang mengajarkan untuk berlindung dengan sifat-sifat Allah seperti:

أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ.

Aku berlindung dengan kemuliaanMu dan kekuasaan-Mu dari kejelekan yang aku dapati dan aku jauhi.”

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 45/Th. II, 26 Dzulqo’dah 1425 H/6 Januari 2005 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli “Allah Berbicara, bukan menciptakan pembicaraan”. Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp di bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief Subekti, Agus Rudiyanto, Zaenal Arifin; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Arif Subekti telp. (0231) 481215.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s